Wednesday, September 25, 2013

Medan for My First Single Traveling

Was, i called this city as a horn city since every vehicles here, surrounds with horn.. kmana-mana dijalan isinya tan tiinn tiiinn tiinn... buseettt, they communicate with horn i guess hihihihi namun pekak kali lahkuping ini. Dan aku punya seorang teman, dia orang Medan. Kmana-mana selalu bawa mobil kijang hijaunya yang bernama Sabrina, dan aku pernah disupiri, ya begitulah dikit-dikit tiinn tiiinnn tiinnn... hingga suatu hari..temanku datang naik angkutan ga bawa sabrina..bertanyalah aku sama temanku :
Aku : Sabrina kemana? kok naik bus?..
Temanku : ga berani bawa gw, abis klaksonnya mati..
Aku : haaa???? *kejengkang sambil ketawa ngakak

But now, i thing i am calling it a Kota Mati Lampu. Abissss... mati lampu muluu, giliran gitu. Entah pagi, sore, atau malam. Info dari kerabat sih sudah sekitar 6 bulanan ini. Saat ikut seminar pun harus terganggu beberapa kali dalam sehari karena berganti dari listrik PLN dan GenSet dan begitu sebaliknya.

Ini adalah pertama kalinya aku pergi keluar kota, nginap, tanpa Chika dan Ndru. Hikss... mu nangis... takuuuttt. *cemeeennn, biarin ajaaahhh,i am not a single traveler. Bismillah, tapi dikota ini ada kerabatku. Jadi insyaAllah lebih rasa aman dan nyaman. Dari mulai datang sudah dijemput di erpot, pergi dan ke hotel tempat seminar , jalan-jalan, sampai pulangpun ditemani terus..Alhamdulillaaahh. Namun sayangnya karena keterbatasan waktu, ya jalan-jalannya ga banyak, karena aku seharian seminar dan hanya bisa jalan-jalan disore hari saja, malam istirahat agar bsk bisa menyerap pelajaran saat seminar. Belum termasuk single traveling ya? hahahaha.. biarin ajaaahhh.

Yuk ah cerita sempat ngapain saja di kotanya.

Nyobain airport baru Medan, namanya Kualanamu. Jadi bandara polonia sudah tidak dipakai lagi untuk umum. Perjalanannya dari kota Medan sendiri lumayan jauh ya, sekitar 1 jam. Disini disediakan kereta juga sampai stasiun kota nya, ada jadwalnya tapi ya ga banyak. Antara 1 jam sekali ada yang setiap 2 jam. Bagus bandaranya, khas bandara International.Trus disini pas ada kaya pameran foto, aku sempat ambil beberapa gambarnya.
Gileeee itu duren ucok yaaaa, knapa jadi resto sebesar ituuuhhhh??? padahal pertama kali aku ke Medan ini, makan di duren ucok itu cuma emper kecil, ditutupin terpal biru pinggir jalan. Trus, sekarang jadi mahaaallll. Untung sama tante, jadilah dibawa ketempat makan duren lain, yang harganya jauuuuhhhh dari si ucok, enaknya sama. Kami makan di samping stadion teladan , duren di ucok seharga 55rb, disini barang yg sama cukup 25rb saja, di ucok 75rb, disini 35rb aja...nah looo...Bisa juga kok dipaketin rapi untuk dibawa ke jakarta, dilapis plastik berkopi, dan lakban coklat yg ga udah-udah ...aku unpack itu ada sekitaran 20menitan... hohhoho. Tapi hasilnya memang okelah, dibawa kepesawat aman, ga ada yg bocor dan bau smerbak tidak ada saat dibawa.

Disini terkenal dengan mie aceh Titi Bobrok di daerah setiabudi, but mengingat ini adalah makanan yang tidak bisa masuk lebih dari 3 suap karena bukan seleraku sepertinya hahahaha...jadi dibawa sodaraku ke Mi Ayam Jamur Mahmud, sebrang Masjid. Enyaaaakkkk rekomen banget, ada krispynya...kalau mau nambah sate kerang juga boleh. Ditutup dengan ice lychee tea, mantaaappp.

Lalu kembali mengunjungi Masjid Raya, etapi kalau ga berpakaian muslim ga boleh masuk ya. Masjid ini cantik sekali.

Disebrangnya ada kolam namanya Kolam Raya yang konon adalah tempat mandi putri Maimun (lupa-lupa inget).. Trus ngabisin sore hari sambil makan rujak lengkap dengan jus terong belanda yang hanya ada di Medan dan jus mangga quinny... aaahhh segarnyaaa...

Lalu pergi mengunjungi Istana Maimun yang merupakan salah satu local heritage. Karena sudah kesorean, ga bisa masuk, karena jam operasional terima tamu hanya sampai jam 17.00. Tapi masih boleh foto-foto sedikit didepannya.

Ga lupa mampir di sebuah gubuk kecil dalam area Istana ini, didalamnya adalah potongan meriam, yang konon adalah salah 1 dari anak Raja. Dimana yang 2 lagi ada di Aceh. Dari meriam ada lubang diatasnya dimana saat kita meletakkan kuping bisa terdengar gemuruh, kaya gemuruh perang. Hiiiiyyy... mungkin itu adalah aliran angin sih...tapi yah begitulah kedengerannya.

Aku juga sempat mengunjungin Vihara Meitreya, didaerah komplek Cemara. Ini Vihara terbesar di Medan. Baguussss.
Trus disebrangnya ada danau, dengan entah ratusan atau ribuan Bangau beterbangan. Aaaahhhh cantiknyaaaa.


Trus maam kerang rebus, didaerah Ring Road. Aku bukan penyuka kerang, jadi kalau maam seafood, jarang pesan kerang. Tapi disini aku makan, abis enak hehehhe. Pakai bumbu kacang+nanas+saos sedikit+kecap manis...

Blom sempat ke tempat lain seperti Danau Toba dan Brastagi, gapapa deh...next time semoga ada rejekinya.


1 comment:

  1. In these scenes, you would possibly bodily resist and could get harm if your partner isn’t cautious. And should you resolve not to use a protected word, it’s even more important that your partner conscious of} how far they will go without causing actual hurt, either physical or mental/emotional. Your conversations can delve into what you're feeling snug, arousedby and have already agreed to beforehand. For example, slapping may be okay, however Bike Helmets punching isn’t. Your right arm may be free for twisting, however the left may be recovering from an damage. Cheap panties are fair play, while costlier lingerie is off-limits.

    ReplyDelete